Selasa, 07 Mei 2019

Teknik Menulis Buku dengan Hati! Selasa, 07 Mei 2019


Segala sesuatu yang dikerjakan dari hati akan lebih terasa ringan. Pun dalam teknik menulis buku, seorang penulis juga perlu menggunakan hatinya agar pekerjaannya terasa lebih ringan. Menulis buku dengan hati akan membawa penulis untuk membiasakan diri bergelut dengan profesinya”.

Teknik Menulis | menulis buku pun perlu dilakukan dengan hati. Hal ini akan menjadi salah satu bekal positif bagi penulis. Dengan hati, penulis akan lebih ringan menjalani profesinya. Ia juga akan lebih terbiasa untuk bekerja tanpa merasa terpaksa atau terbebani. Jika banyak penulis telah melaksanakan pekerjaannya dengan hati, bukan mustahil akan lahir karya-karya hebat yang akan menarik banyak pembaca.

Teknik Menulis | menulis buku dengan hati bisa dilakukan oleh siapapun. Mereka yang ingin menekuni pekerjaan sebagai seorang penulis dapat menyimak beberapa cara berikut agar dapat menulis dengan hati. Untuk menjadi seorang penulis yang mampu berkarya dengan hati, Anda dapat melakukan beberapa cara berikut.

Membangkitkan emosi < di dalam teknik menulis >
Membangkitkan emosi tidak hanya ditujukan untuk meluapkan kemarahan. Dalam konteks teknik menulis, membangkitkan emosi dapat dilakukan dengan cara mengekspresikan hati untuk dituangkan menjadi tulisan. Disadari atau tidak, tulisan yang dipengaruhi luapan ekspresi dari hati akan berbeda dengan tulisan dari hasil penuangan gagasan di pikiran.

Tulisan yang dihasilkan dari luapan emosi juga akan lebih menggugah pembaca. Sebaliknya, tulisan tidak menggugah pembacanya justru akan membosankan, bahkan di bagian awalnya.

Bersedia atau membuka diri untuk dikritik < di luar teknik menulis >
Tentunya, kita tidak mampu menilai kualitas tulisan sendiri. Oleh karenanya, kita membutuhkan pendapat orang lain untuk menilai kualitas tulisan kita. Dalam teknik menulis, Anda akan sangat membutuhkan pendapat orang lain terhadap tulisan Anda. Pendapat, baik berupa kritikan, saran, protes, maupun ancaman adalah hal yang biasa untuk penilaian suatu karya. Demi meningkatkan kualitas karya Anda, pendapat orang lain, terutama dari mereka yang benar-benar ahli di bidang yang sesuai dengan tulisan Anda sangat diperlukan.

Anda sebagai penulis harus membuka diri untuk menerima berbagai tanggapan atas tulisan Anda. Jika dikritik, Anda tidak perlu bersusah-payah untuk membantah atau menentangnya. Biasanya kritikus akan lebih kejam memberikan serangan balik jika Anda melakukannya. Hal ini nantinya justru membuang-buang waktu dan menjadikan diri Anda tidak berkembang.

Membuka diri untuk menerima pendapat orang lain juga membuat Anda lebih peka terhadap kekurangan dan kesalahan Anda. Dengan begitu, Anda akan lebih berhati-hati dalam teknik menulis. Anda juga akan lebih meresapi dan merenungkan kekurangan Anda tersebut.

Tidak menggurui < di dalam teknik menulis >
Akan lebih baik jika Anda tidak menulis buku dan memaparkan berbagai hal yang sifatnya menggurui. Anda yang merupakan seorang penulis bukan sedang berperan sebagai seorang penceramah. Tulisan yang menggurui juga nantinya akan mengurangi minat pembaca untuk membeli atau membaca buku Anda.

Agar tidak menghasilkan tulisan yang menggurui, Anda dapat menempatkan diri sebagai pembaca terlebih dahulu. Dengan begitu Anda akan melihat citra Anda sebagai seorang penulis. Anda juga dapat mengamati cara Anda menempatkan diri dan membangun komunikasi dengan pembaca.

Menempatkan diri sebagai pembaca juga berarti mengamati bahwa tidak semua pembaca merupakan orang dengan intelegensi yang tinggi. Anda perlu menganggap bahwa pembaca adalah orang awam yang baru akan mengetahui isi tulisan Anda. Dengan begitu, Anda akan lebih bijak dalam menuangkan gagasan Anda menjadi tulisan yang tidak menggurui.

Pahami makna peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” < luar dalam teknik menulis >
Peribahasa tersebut tentunya tidak asing di telinga Anda, bukan? Dalam konteks teknik menulis, peribahasa tersebut memiliki makna bahwa penulis dapat membawa pembaca menjadi lebih hebat dari dirinya. Memang, posisi Anda sebagai penulis memang seorang agen penyebar ilmu atau wawasan baru, tapi bukan berarti Anda lebih tahu segalanya daripada pembaca.

Menganggap Anda lebih pintar dan mampu membawa pembaca menjadi lebih pintar dari Anda bukanlah hal yang tepat. Hal tersebut nantinya akan merugikan Anda sebagai seorang penulis. Akan banyak risiko yang dihadapi jika Anda masih memiliki pola berpikir seperti itu. Salah satu risiko yang paling nyata Anda hadapi karena hal tersebut adalah memiliki banyak saingan.

Jujur < diluar teknik menulis >
Last but not least adalah berlaku jujur. Dimanapun Anda berada, bagaimanapun kondisi Anda, siapapun Anda, menjunjung tinggi kejujuran adalah hal yang harus diutamakan dalam berbagai aspek kehidupan. Sebagai penulis pun Anda wajib menjadi seorang yang jujur. Dengan kejujuran, Anda akan menghasilkan karya yang berkualitas, yang mencantumkan acuan, tidak mengambil gagasan orang lain, dan menuliskan hal-hal yang benar dan akurat.

Kejujuran akan membawa Anda untuk selalu berpikir bahwa menulis buku harus dilakukan dengan tata cara dan kaidah sebagaimana mestinya. Anda juga akan menghargai gagasan orang lain saat mengutip jika Anda mengutamakan kejujuran. Di samping itu, tanpa kejujuran, Anda bisa saja dianggap sebagai plagiat. Karya Anda juga akan diragukan oleh para pembaca.

Kelima poin di atas adalah modal bagi Anda untuk dapat menulis buku dengan hati. Dengan berpedoman pada kelima poin tersebut, Anda akan lebih mudah membangun hubungan baik dengan pembaca melalui tulisan Anda. Selain itu, Anda juga tidak akan berpikir dari satu sisi, sebab Anda akan memahami kebutuhan dan tingkat ketertarikan pembaca akan karya yang Anda tuliskan.

Pedoman dan Model Acuan Teknik Menulis Buku Teks yang Berkualitas


Rendahnya penulisan buku teks masih menjadi sorotan dan pekerjaan penting yang perlu diperhatikan di dunia pendidikan Indonesia. Selain masih rendahnya minat menulis buku tersebut, kualitas buku yang telah beredar juga masih perlu ditindaklanjuti. Hal ini membutuhkan perhatian dari berbagai kalangan, terutama kalangan akademisi.
Teknik Menulis | Kualitas penulisan buku teks masih menjadi sorotan di dunia pendidikan Indonesia. Selain faktor minat yang rendah, kualitas buku teks yang masih rendah juga tidak terlepas dari proses pembelajaran yang dilalui oleh para penulisnya. Bisa jadi, buku teks dengan kualitas yang belum sesuai standar ditulis oleh para akademisi yang melalui proses pendidikan yang kurang baik. Selain itu, kurangnya materi instruksional juga berperan dalam hal ini. Ada juga kemungkinan bahwa materi instruksional sudah sering diberikan, tetapi kurang memadai dan kurang sesuai untuk diterapkan.

Kekurangan-kekurangan tersebut kemudian menjadi hal yang perlu dibenahi untuk meningkatkan kualitas sumber ajar yang sesuai standar, kriteria, dan kaidah. Selain itu, peningkatan kualitas penulisan buku juga akan berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama dari segenap elemen pendidikan di Indonesia dalam mengevaluasi buku-buku pendidikan yang sudah ada. Dari hasil evaluasi tersebut, buku teks yang unggul dapat dijadikan sebagai pedoman untuk penulisan berikutnya.

Teknik Menulis | Evaluasi terhadap buku-buku teks yang sudah beredar di dunia pendidikan dapat dilakukan dengan melihat beberapa aspek, yaitu materi, penyajian, bahasa dan keterbacaan, grafika, dan keamanan. Kemudian perlu juga ditinjau lebih jauh bahwa buku teks sudah memenuhi kebutuhan tenaga dan peserta didik, topik-topiknya relevan dan menarik, serta tidak membatasi kreativitas pendidik. Selain itu, kualitas buku teks juga dapat diukur dengan melihat aspek realistik dan memperhitungkan kondisi kegiatan belajar-mengajar di kelas.

Untuk meningkatkan kualitas teks, para penulis buku tersebut dapat memahami model penulisan di bawah ini. Dengan begitu, mereka diharapkan mampu menulis buku yang sesuai dengan standar dan kriteria yang telah ditentukan. Jika penulisan buku teks dilakukan dengan memperbaiki kualitas, pengadaan sumber ajar yang sesuai kriteria nasional yang berkualitas dan memenuhi kebutuhan pendidikan dapat terpenuhi.

Apabila dipaparkan lebih rinci, model penulisan teks yang berkualitas dapat disesuaikan dengan beberapa aspek berikut.
1.      Sesuai dengan instrumen evaluasi buku teks nasional
2.      Tetap mengadaptasi model penulisan yang sudah ada
3.      Menggunakan teori-teori yang relevan
4.      Memerhatikan pandangan dari ahli, tenaga pendidik, dan peserta didik (siswa dan mahasiswa).
Lebih jauh, menulis buku teks yang berkualitas sebaiknya juga memerhatikan faktor penunjang atau pelengkap dan faktor penyempurna. Adapun rincian faktor penunjang dan penyempurna adalah sebagai berikut.

Faktor penyempurna < teknik menulis >
Faktor ini masih berkaitan dengan penulisan buku teks sendiri, yang disesuaikan dengan standar penilaian dan pemenuhan fungsinya. Faktor penyempurna buku tersebut meliputi:

Penggunaan jenis dan ukuran huruf < teknik menulis >
Huruf yang digunakan untuk menulis buku ini biasanya adalah huruf-huruf yang jelas dan mudah dibaca. Sementara itu, ukuran huruf pada umumnya adalah 12 atau 14, atau yang sebanding dan proporsional dengan jenis hurufnya. Berbeda dengan isi, jenis dan ukuran huruf bisa diatur sesuai dengan keinginan penulis atau penerbit buku.

Elemen kegrafikan < teknik menulis >
Ilustrasi dan penggunaan warna adalah dua hal yang penting dalam elemen kegrafikan. Keduanya perlu disusun secara proporsional dan disesuaikan dengan faktual.

Indeks < teknik menulis >
Daftar kata ini akan berisi kata-kata tertentu yang dituliskan dalam isi buku agar mudah dicari. Kata-kata dalam indeks akan dilengkapi dengan nomor halaman sehingga pembaca dapat dimudahkan dalam mencari kata-kata yang diinginkan.

Glosarium < teknik menulis >
Glosarium atau kamus kosakata akan berguna dalam menyediakan penjelasan singkat mengenai kata-kata yang belum diketahui. Biasanya glosarium terletak di bagian akhir buku teks.

Faktor penunjang (pelengkap) dan penyempurna < teknik menulis >
Tidak hanya berdiri sendiri atau diterbitkan dalam sebuah buku tunggal, buku teks perlu memiliki penunjang dan penyempurna. Faktor penunjang dapat dipenuhi dengan menambahkan penulisan buku petunjuk guru, buku kerja siswa, dan buku sumber.

Teknik Menulis | Komponen pelengkap pertama, yakni buku petunjuk guru, merupakan buku yang berisi pedoman, cara pembelajaran, pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar yang dijadikan sebagai tuntunan bagi tenaga pengajar. Sementara itu, buku kerja siswa dapat berisi tugas-tugas, kegiatan, latihan, dan yang perlu dilakukan oleh peserta didik baik di luar jam belajar di kelas. Berikutnya, perlu adanya buku sumber yang mampu menunjang buku teks dalam kegiatan belajar mengajar. Buku ini berguna untuk memperkaya pemahaman dan pengertian yang berkaitan dengan materi dalam buku teks.

Kedua faktor tersebut nantinya akan menjadi penunjang bagi komponen dasar buku teks. Aspek materi atau isi, penyajian, keterbacaan atau penggunaan bahasa, dan keamanan dapat terlengkapi dan lebih sempurna dengan adanya kedua faktor penunjang di atas.

Teknik Menulis | Dalam menulis buku teks, penulis diharapkan memerhatikan rambu-rambu dan petunjuk penulisan dengan cermat agar terhindar dari kekurangan atau kelemahan yang tidak sesuai dengan kaidah. Selain itu, perlu adanya peran serta dari elemen di luar dunia pendidikan untuk menilai baik atau tidaknya isi buku. Penilaian ini akan berguna untuk mengukur kualitas isi buku teks.

Di samping itu, para akademisi juga perlu memiliki bekal dan pemahaman mengenai prinsip-prinsip buku teks sehingga dapat memberikan pertimbangan dan penilaian. Kemudian dari sisi pemerintah, sebaiknya lebih selektif dalam memilih dan menetapkan buku teks yang dapat dijadikan pegangan. Selain itu, pemerintah juga perlu menjadi fasilitator dalam memudahkan akses terhadap buku tersebut dari manapun.

Teknik Menulis | Para penulis yang menulis buku tersebut dengan memerhatikan kaidah dan model yang dicontohkan dapat mewujudkan penyediaan sumber ajar yang benar-benar diperlukan oleh dunia pendidikan. Selain itu, kerjasama mereka dengan berbagai elemen akan menjadi faktor penunjang bagi penerbitan dan peredaran buku pendidikan yang berkualitas. Penulisan dan pengawasan terhadap beredarnya buku semacam ini nantinya akan meminimalisasi adanya pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang secara sengaja membisniskan buku dan mencemari dunia pendidikan. Kemudian kemajuan proses belajar mengajar juga akan tercapai karena sumber ajar yang digunakan berkualitas.

Teknik Menulis | Pentingnya Revisi dalam Menulis Buku


Tidak ada satu pun pekerjaan di dunia ini yang luput dari kesalahan, bahkan sepandai-pandainya seseorang dalam teknik menulis

Dalam proses menulis buku tidak terlepas dari kesalahan pengetikan tulisan (typo), kesalahan ejaan yang digunakan ataupun content (isi buku). Oleh karena itu, dalam langkah-langkah teknik menulis revisi tulisan menjadi hal penting yang harus dilakukan. Revisi tulisan dilakukan setelah naskah buku tersusun secara lengkap. Dimana pada dasarnya revisi bertujuan untuk memperbaiki content (Isi Buku) dan bahasa serta beberapa revisi lain seperti layout dan desain. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat merevisi. Pertama, revisi dilakukan setelah semua naskah selesai. Hal yang perlu diperhatikan dalam proses revisi tulisan buku adalah jangan merevisi satu judul sampai sempurna baru pindah ke judul lain. Selesaikan terlebih dahulu semua judul, bagaimanapun bentuknya, baru kemudian direvisi secara keseluruhan. Dengan demikian, kita sudah tahu gambaran buku secara keseluruhan.

Kedua, agar bisa “menjaga jarak” dengan naskah buku yang telah dibuat, “endapkan” terlebih dahulu naskah sekitar 1-2 minggu. Hal ini bertujuan untuk membuat pikiran lebih segar dengan mengerjakan pekerjaan lain. Kalau perlu, hadiahi diri dengan istirahat ataupun liburan karena telah menyelesaikan draft naskah buku dengan baik. Baru saat pikiran sudah segar, buka lagi file draft naskah buku dan mulai merevisi. Ketiga, jangan ragu menambah atau mengurangi tulisan dalam naskah buku yang telah tersusun. Jika merasa ada kalimat yang bertele-tele, berulang, dan tidak perlu, tidak ada salahnya menghapus. Begitu juga sebaliknya, jika merasa ada yang kurang, jangan ragu menambahkan. Keempat, membaca kembali naskah buku seakan-akan kita sebagai pembaca, bukan sebagai penulis. Rasakan setiap emosi yang timbul, apakah sudah sesuai dengan yang diinginkan atau belum. Jika merasa belum sesuai dengan apa yang diharapkan, mesti ada yang perlu diubah. Kalau perlu, bisa juga melibatkan beberapa teman dekat untuk ikut membaca. Setelah itu, kita dapat meminta feedback dari mereka berkaitan dengan reaksi dan respons mereka apakah sudah sesuai dengan apa yang kita inginkan atau belum.

Selain itu, Revisi dalam teknik menulis pada pada dasarnya perlu dilakukan dari dua sisi, yaitu content (isi buku) dan bahasa. Pada saat melakukan revisi content (isi buku) hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu: (1) Penulisan nama dan gelar. Jika mengutip nama seseorang, pastikan menulisnya dengan benar. Sama halnya saat menuliskan gelar seseorang perlu dipastikan gelar tersebut benar adanya. (2) Referensi tulisan. Saat mengutip kalimat, pastikan sumber kutipan benar. Jangan sampai sumber referensi meragukan. Apalagi saat mengutip ayat al-Quran atau Hadis, pastikan ayat atau lafal dan artinya benar agar tidak terjadi kesalahan. (3) Tanggal dan waktu. Saat menuliskan tanggal dan waktu, pastikan dengan benar. Tanggal kelahiran, kematian, dan berbagai peristiwa penting tidak boleh salah dalam penulisannya. (5) Hubungan satu paragraf dengan paragraf lain. Buku yang enak dibaca adalah buku di mana antara satu paragraf degan paragraf lainnya mengalir secara lancar. Kalau ada hubungan antarpargraf yang kurang enak, segera lakukan revisi. (6) Judul-judul di dalam buku. Buatlah judul-judul buku yang sederhana dan menarik. Apalagi untuk buku-bukuk yang bersifat “ngepop”, mesti juga dibuatkan judul-judul yang ngepop dan tidak kaku.

Sementara itu, untuk revisi tulisan berkaitan dengan merevisi dari sisi tata bahasa harus sesuai dengan tata bahasa Indonesia yang baik. Hal ini akan memudahkan pembaca sekaligus memberikan gambaran tingkat ketrampilan berbahasa dari penulisnya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari sisi bahasa, di antaranya: (1) Kesalahan penulisan kata. Sengat sering terjadi kesalahan menulis (typo) karena kecepatan dalam menulis ataupun kelengahan dalam mengetikkan jari-jari di atas keyboard komputer. Kekurangan salah satu huruf, kelebihan, atau kesalahan penempatan sering terjadi. Penting melihat kata satu per satu dan memeriksanya apakah sudah benar atau belum. (2) Konsistensi Penulisan. Kita juga mesti konsisten dalam menulis, dari awal hingga akhir. Konsistensi penulisan berkaitan dengan penulisan kata ganti seperti “saya”, “aku” ataupun “gue”. Konsistensi dalam penulisan buku yang perlu dilakukan pada saat revisi adalah penulisan transliterasi. Penulisan transliterasi dari bahasa asing ke bahasa Indonesia juga mesti diperhatikan. Saat kita menggunakan kata “Ramadan” misalnya, maka kita menggunakan kata “rida”. Jangan sampai di satu kata kita menggunakan kata “Ramadhan”, tetapi di lain kalimat kita menggunakan kata “Ridla”. Sebaiknya merujuk pada rujukan transliterasi yang sudah diakui Pemerintah.

Lebih lanjut, revisi tata bahasa dalam teknik menulis yang juga perlu diperhatikan adalah penggunaan keterangan tempat dan waktu. Penulisan kata “di” , “ke” yang diikuti keterangan tempat atau waktu adalah dipisah. Misalnya “Saya berjalan kaki di sore dan pagi hari”. Sementara penulisan kata tersebut yang disambung dengan kata kerja, maka penulisannya disambung. Contoh: dikerjakan, dilakukan. Kesalahan kecil semacam ini seringkali tidak diperhatikan penulis. Tidak lepas dari itu, penggunaan huruf besar dalam kalimat juga harus diperhatikan. Hal ini seringkali luput dari perhatian saat proses revisi. Jangan sampai salah menggunakan karena penempatannya yang salah. Setelah revisi pada sisi content dan tata bahasa selesai, revisi lain seperti layout dan desain juga perlu diperhatikan. Dimana setelah di-layout, maka selanjutnya penerbit akan memberikan naskah yang sudah siap cetak. Walaupun sejak awal sudah kita teliti, hasil dari layout yang sudah siap cetak perlu diteliti lagi, siapa tahu ada kesalahan penulisan ataupun desain dan ilustrasi yang kurang sesuai dengan tulisan kita. Mari Terus Menulis!

Tips Merancang Setting Novel


Merancang setting novel | Siapa yang menyangka jika novel bisa memberikan manfaat untuk perkembangan otak pembaca. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Emory University menunjukan bahwa pembaca yang setelah membaca novel akan mengalami peningkatan koneksi secara signifikan di syaraf otak.

Peningkatan otak yang dialami oleh pembaca berdampak pada angular gyrus di otak. Angular gyrus bekerja dalam hal pemprosesan bahasa, logika dan angka. Secara jangka panjang membaca novel juga akan mempengaruhi dibagian somatosensory cortex, yang memicu pembaca lebih kreatif dan terjadi peningkatan aktivitas otak.

Melihat dampak manfaat menulis novel, dalam kesempatan kali ini akan mengulas tips merancang setting novel. Setidaknya ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan, misal memperhatikan bagaimana menentukan latar, logistik dan bagaimana mengembangkan panca indra. Berikut uraiannya.

Merancang Setting Novel – Menentukan Latar
Tips pertamakali ketika ingin merancang setting novel adalah menentukan latar cerita. Sebuah novel tanpa latar akan terasa aneh dan mengganjal. Latar atau lokasi bisa dimanapun, yang Anda inginkan. Bisa di lokasi yang sekarang sudah ada, dan bisa juga menggunakan latar imajinasi dalam pikiran Anda. Prinsipnya adalah, ada tempat.

Jika latar yang digunakan menggunakan lokasi terkenal, tidak ada salahnya mendeskripsikannya secara mendetail. Mengambarkan latar secara detail, menarik dan hidup membantu pembaca membayangkan secara nyata dalam imajinasi mereka. Secara tidak langsung, Anda sudah mengajak berinteraksi pembaca masuk dalam dunia imajinasi.

Bagaimana cara mendeskripsikan suatu tempat yang mampu mengajak pembaca hidup dalam imajinasi? Sederhana, cukup paparkan dan ceritakan setiap detail sudut, tempat dan keunikan. Masukan impresi di dalam tulisan agar emosi pembaca terbangkitkan.

Misal, “Langin bergelayut, burung sriti terbang ditengah kepadatan jalan Malioboro. Semua sibuk sendiri. Ada yang sibuk mencari nafkah dengan baju lusuh, karung di punggung. Ada juga yang berpadu kasih sambil bergengaman tangan. Dalam satu waktu, aktivitas berputar berbeda. Itulah kehidupan.”

Merancang Setting Novel – Menentukan ‘Cara’
Ketika hendak menerapkan merancang setting novel, selain menentukan tokoh, setting dan alur, Anda juga harus memperhatikan yang namannya trik atau cara. Dalam hal ini, cara yang dimaksud adalah trik membangun dan mengembangkan novel Anda. Cara si tokoh masuk ke konflik dan cara tokoh menyelesaikan masalah.

Tidak ada sebuah cerita yang menarik tanpa cara. Perhatikan novel karangan Andrea Hirata tentang Laskar Pelanggi, atau karya Dee. Mereka memiliki cara penyampaian cerita, konflik lewat kemasan penulisan yang menarik dan sarat ilmu baru. Cara-cara semacam inilah yang bisa Anda kembangkan untuk karya Anda.

Prinsipnya mengelola strategi yang menarik. Isi novel dikemas berbeda dari novel-novel pada umumnya. Jika novel yang mirip dengan novel satu dengan novel yang lain, sulit bisa best seller. Sedangkan novel yang berbeda, berpotensi untuk laris dipasaran. Apakah Anda salah satunya?

Merancang setting novel – Kembangkan Panca Indra
Gunakan panca indra agar novel Anda memiliki ruh. Apapun itu, baik karya seni maupun karya tulis (novel) akan hambar jika tidak diberikan ruh. Ruh dalam hal ini bukan ruh dalam arti sebenarnya.

Memberi ruh tidak selamannya memberikan nyawa. Salah satu cara meniupkan ruh adalah meniupkan ruh kepada isi cerita. Misal di dalam novel Anda ingin menulis ‘duduk di bawah pohon rambuttan’, agar adegan tersebut lebih hidup, dapat dituliskan seperti ini.

‘Sambil bersandar, aku duduk diatas rumput yang ranum itu. Tampak buah rambutan mulai menguning, beberapa sudah merah. Ingin rasanya memetik, meski pohon tersebut tinggi.’ Menuliskan seperti ini lebih hidup, dan mengajak pembaca ikut mermasakan apa yang dirasakan oleh penulis. Dibandingkan hanya menuliskan duduk di bawah pohon rambutan.

Itulah tiga tips merancang setting novel agar lebih hidup dan memiliki ipresi. Bagi penulis pemula memang sulit memulai dan membiasakan seperti ini. Namun jika Anda sering menuli, hal-hal semacam ini akan memudahkan Anda.

Punya Ide Sering Hilang? Kuasai 5 Cara Memperkuat Ide dalam Menulis Buku


Kendala paling menganggu dan menghambat proses menulis buku adalah terkendala ide. Misalnya sering menemukan ide, namun ide tersebut hilang begitu saja dalam ingatan. Meskipun sepele, hal kecil semacam ini bisa menjadi penghambat besar.

Lantas bagaimana cara agar ide yang dimiliki tidak mudah menguap hilang? Ada beberapa tips cara memperkuat ide saat menulis buku. Semoga dengan beberapa poin ini memudahkan Anda lebih lancar menuangkan ide kreatif. Berikut uraiannya.

Berfikir kreatif
Berfikir kreatif menjadi modal awal agar ide yang sudah ditentukan tidak mudah hilang. Ciri orang kreatif ada beberapa. Pertama, dia memiliki ke khasan khusus seperti aktif berfikir. Dalam kondisi apapun dan dimanapun, otak akan terus berfikir. Ciri orang yang kreatif memiliki syaraf otak yang terus berfikir aktif. Bahkan, sesuatu yang remeh temeh bisa menjadi bahan untuk direnungkan. Model berfikirnya pun berbeda dari kebanyakan orang.

Kedua, orang kreatif memiliki cara yang unik dalam menjalani hidupnya. Jika Anda perhatikan, penulis kreatif memiliki cara yang unik dalam menjalani hidup dan dari cara berfikirnya. Mereka lebih senang menjadi dirinya sendiri, dan mereka tidak mudah terpengaruhi begitu saja oleh faktor lain.

Ketiga, mudah bosan, itulah ciri orang kreatif. Orang kreatif paling tidak betah bekerja di pekerjaan yang sifatnya monoton. Orang kreatif lebih senang bekerja dengan pekerjaan yang bebas, mencari tantangan dan sudah pasti tidak senang berada di zona nyaman. Mereka bekerja dengan apa yang ingin dilakukan, lebih senang dengan tantangan besar.

Keempat, memiliki cara kerja berbeda daripada orang kebanyakan. Mungkin orang umumnya, lebih senang dan nyaman bekerja di zona nyaman. Berbeda dengan orang yang kreatif. Ia memiliki jam kerja dan cara kerja yang fleksibel, sesuka mereka. Tidak dibatasi oleh aturan, waktu dan macam-macam. Menariknya, ia pun juga memiliki waktu sendiri untuk me time, dibandingkan dengan yang lain.

Kelima, orang kreatif hidup diantara kebahagiaan dan depresi. Sebagai contoh, Anda memiliki passion menulis. Anda begitu merasa terbebas dan lepas setiap kali menulis. Namun selama menulis, ada risiko yang harus di hadapi. Meskipun itu memusingkan dan menyebabkan depresi, namun tetap menjadi tantangan baginya.

Misalnya risiko mencari bahan materi, kejar deadline dan kesulitan mencari alternatif lain. Meskipun merasa kesulitan, dan tak jarang merasa depresi, tetap bertahan untuk menulis buku hingga akhir.

Memiliki ideologi
Agar ide yang dimiliki tidak cepat hilang, kunci utama adalah memiliki ideologi. Menulis buku tanpa ideologi yang kuat dapat menjadikan buku yang ditulis terkesan hambar dan datar. Tidak ada sesuatu yang unik dan mengetarkan. Setidaknya ideologi sebagai formula untuk mengolah ide yang biasa saja menjadi luar biasa. Ide yang luar biasa dan memiliki kesan pun akhirnya tidak mudah dilupakan.

Selain menguatkan ide yang diterima, ternyata memiliki ideologi juga membantu dalam proses menulis buku. setidaknya ideology yang dimiliki seorang penulis akan membantu dalam membuat kerangka dan alur tulisan yang akan disampaikan.

Pandai Menganalisis
Pandai menganalisis selain bisa memperkuat ide, ternyata juga dapat membantu untuk menemukan ide yang lain. Penulis yang terbiasa menganalisis masalah, memiliki sudut pandang yang lebih tajam dan lebih menyeluruh. Dibandingkan yang tidak memiliki kemampuan analisis yang baik, akan merasa kesulitan setiap kali menuangkan gagasan.

Analisis memang terkesan tidak begitu penting, namun jika diperhatikan lebih jeli. Justru analisis yang mendalamlah yang justru akan menentukan apakah buku yang diterbitkan diminati pasar atau tidak. Hampir semua buku best seller, dibuat berdasarkan analisis yang tajam. Sekalipun ide awalnya sederhana, jika di analisis tetap menjadi menarik.

Mencatat ide yang muncul
Mencatat ide yang muncul salah satu tindakan nyata memperkuat ide dalam menulis buku. Tidak dapat dipungkiri bahwa kita memiliki keterbatasan dalam banyak hal. Salah satunya keterbatasan dalam mengingat. Itu sebabnya, menulis setiap ide yang terlintas dengan baik cara yang paling efektif.

Bentuk ide masih abstrak? Tidak masalah, memang begitulah ide. Tugas penulis adalah menjadi ide yang masih berbentuk abstrak menjadi tertata dan menjadi rasional. Haruskah ide yang muncul di catat? Bagi seorang penulis yang menulis buku, itu penting. Karena satu ide buku bisa dapat digunakan untuk dua bentuk buku, mungkin bisa lebih, tergantung dari ketrampilan si penulis.

Diskusi
Siapa yang menyangka jika diskusi membantu menguatkan ide kita. Setidaknya dengan diskusi akan mengasah memori dan otak kita untuk melatih berfikir. Semakin sering melatih otak untuk berfikir, semakin mudah bagi otak menyimpan ide. Bahkan dengan diskusi akan membantu untuk mengkoordinasikan ide yang sifatnya abstrak menjadi satu kesatuan gagasan yang menarik.

Diskusi juga bisa membantu penulis untuk menyampaikan isi. Setidaknya dengan diskusi akan memberikan sudut pandang lain terhadap gaya penulisan. Manfaat diskusi juga akan membukakan wawasan oranglain, agar ketika menulis buku tidak terkesan mengerui atau semacamnya.

Itulah lima cara memperkuat ide dalam menulis buku. Menjaga ide itu hal penting, tanpa ide, tidak akan melahirkan ide. Ide sebagai modal awal untuk mengembangkan draf dan membuat kerangka tulisan dan menjadi buku. Semoga ulasan ini bermanfaat, dan selamat mencoba.

Teknik Menulis (Draft) Buku Pertamamu


Banyak yang bertanya, bagaimana menjadi seorang penulis? Bagaimana memulai untuk menulis buku? Bagaimana caranya menguasai teknik menulis? Apa yang harus ditulis?
Teknik Menulis | Beberapa orang menjawab, menulis, menulis, dan menulis.

Memang benar seperti itu. Jika ingin menjadi penulis novel, maka tulislah novel. Ingin menjadi cerpenis, ya segeralah menulis cerpen. Akan tetapi, kenyataannya tidak semudah itu. Ada beberapa elemen yang harus diperhatikan dalam teknik menulis, terutama novel. Bukan hanya mengenai isi cerita, melainkan juga mengenai aturan-aturan yang secara tak langsung memang harus ada dalam sebuah novel.

Dalam proses drafting, intinya kita menuliskan apapun hasil imajinasi, observasi, dan pengalaman pribadi dalam bentuk tulisan. Jangan memikirkan apakah tulisan itu laku atau tidak yang penting adalah TULIS DAN SELESAIKAN! Di sini tidak berlaku rumus lebih cepat lebih baik, sebab yang penting adalah tulisan kita menjadi propembaca, bukan tulisan yang asal cepat.

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk memulai menulis novel?

1. Kenali Genre Novelmu
Definisi genre adalah jenis, tipe, atau kelompok sastra atas dasar bentuknya. Genre dapat ditentukan berdasarkan :

Tema Cerita
– Chicklit atau mainstream romance merupakan tema cerita cinta dewasa
– Teenlit tema cerita remaja
– Fantasi tema cerita dunia antah-berantah
– Thriller/mystery tema cerita horor dan misteri

Latar Belakang
Kisah dalam cerita yang berlatar belakang pada tahun 1920-an bisa disebut Historical Romance. Sebagai contoh dalam novel Pride & Predudice, Jane Ayre, dan Anotement.

Target Pembaca
Kita kenali target pembaca untuk novel kita. Remaja, Dewasa Muda, dan Dewasa.

2. Gali Idemu
Ide adalah salah satu langkah pertama untuk mengasah kemampuan teknik menulis buku. Untuk menjadi seorang penulis dan untuk memulai sebuah novel, yang kamu butuhkan adalah ide. Apapun yang muncul di kepala kita tulis di sebuah catatan, entah itu di sebuah kertas, notepad atau lainnya. Dan inilah nanti yang akan kita jadikan sebagai draft tulisan.

Ide cerita merupakan hal terpenting bagi penulis. Jika tak ada ide, maka tak akan menulis buku. Maka, gali lebih dalam ide ceritamu, kembangkan, dan tulis.

3. Kenali Karaktermu
Dalam sebuah kelas teknik menulis, editor dari salah satu penerbit berkata, kita ini merupakan Tuhan dalam cerita kita sendiri. Bagaimana tidak? Kita bisa bebas menentukan karakter tokoh dalam novel kita sendiri.

Kenali karaktermu sedetil mungkin untuk membuatnya benar-benar terasa nyata. Seakan-akan karaktermu itu benar-benar hidup. Mulai dari memberi nama, di mana ia tinggal, siapa keluarganya, umur berapa, bentuk badannya, bagaimana wajahnya, caranya ia tersenyum, bahkan bagaimana gestur si karakter.

4. Deskripsikan Ceritamu Sesuai Karaktermu Sendiri
Semua penulis memiliki cara dan bahasa tersendiri dalam mendeskripsikan ceritanya. Maka, dalam teknik menulis jadilah diri sendiri, bagaimana teman-teman menjalankan isi cerita dengan deskripsi yang mudah dipahami.

Tak perlu menggunakan bahasa puisi untuk menulis novel yang bagus. Bagi saya, narasi yang mudah dipahami dan tak berbelit-belit merupakan elemen penting dalam teknik menulis.

Dalam deskripsi cerita kita juga harus menentukan point of view (pov)  atau sudut pandang cerita. Dalam sudut pandang cerita ada tiga macam yaitu, sudut pandang orang pertama yang biasa menggunakan “aku”, “saya”, “gue”, sudut pandang orang kedua, dan sudut pandang orang ketiga yang biasa menggunakan “dia”, “mereka”.  Perbedaan sudut pandang menghasilkan cerita yang berbeda.

5. Tentukan Plot dan Alur Yang Baik
Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama dan menggerakkan jalan cerita melalui kerumitan ke arah klimaks dan penyelesaian. (artikata.com)

Plot merupakan isi cerita dalam novel tersebut, sedangkan alur adalah jalan cerita. Plot merupakan kerangka karangan yang sudah ada dalam otak kita. Alur yang mengatur bagaimana cerita itu bisa berjalan. Alur yang baik, merupakan perpindahan cerita yang tak terasa membosankan. Ibarat naik mobil, kita tak merasa lelah atau bisa disebut nyaman.

6. Lakukan Riset Agar Setting-mu Terasa Nyata
Setting merupakan latar belakang dari sebuah cerita yang mencakup di mana cerita itu dibuat. Sebuah gambaran mengenai gedung/sekolah/rumah sakit. Setting bisa saja nyata atau terkadang hanya rekaan belaka seperti halnya Capitol dalam cerita The Hunger Games.

Setting yang kuat membantu pembaca untuk membayangan jalan cerita. Seperti halnya dengan karakter setting juga perlu terasa nyata. Agar pembaca merasa kalau tempat ini benar-benar ada atau mereka bisa membayangkan bagaimana bentuk suatu tempat tanpa mereka tahu sebelumnya.

7. Latih Kepekaan Dialogmu
Biasanya ketika awal mula menulis novel, dialog begitu monoton dan tak bervariasi. Seiring berjalannya waktu sebaiknya mulai belajar membuat dialog yang masuk akal dan menarik untuk diikuti. Melatihnya cukup dengan mencoba berdialog dengan teman, keluarga atau orang terdekat. Bisa pula dari banyak membaca dan menonton film.

Begitu pula dengan tata bahasa. Kita perlu mempelajari tata bahasa yang baik dan benar, meskipun pada dialog kita menggunakan tata bahasa tak baku. Untuk narasi kita harus benar-benar memperhatikan hal tersebut. Mungkin, bagi mereka yang belum mengerti tata bahasa akan baik-baik saja membaca tulisan kita. Tapi, bagi mereka yang sangat peka dengan bahasa akan mengerutkan kening, dan mengganggu kenyamanan membaca.

8. Temukan Ciri Khasmu
Untuk satu ini, kita mempelajarinya dengan sering menulis. Lama kelamaan akan muncul ciri khas masing-masing. Terkadang, dalam teknik menulis, kita dipengaruhi oleh tulisan penulis lain yang tengah kita baca, namun dengan seiring berjalannya waktu, jati diri tulisan kita akan muncul dengan sendirinya.

Setelah mengetahui elemen-elemen tersebut, apa yang harus kita lakukan?

Cara menulis setiap penulis berbeda-beda. Ada yang mengikuti setiap elemen di atas, ada yang langsung menulis tanpa memedulikan hal-hal tersebut. Terkadang, beberapa penulis menulis cerita mereka di buku tulis sebelum diketik dalam komputer.

Yang paling penting dalam menulis novel adalah komitmen untuk menyelesaikannya sampai akhir. Jika, tidak mungkin pada pertengahan jalan teman-teman akan berhenti dan menyerah. Sebagai saran, saat merasa ingin menyerah ingat kembali tujuan awal teman-teman saat menulis novel tersebut.

Semoga membantu!

Teknik Menulis : Tiga Hambatan dalam Menulis Buku


Teknik Menulis | Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk yang besar di dunia tidak dapat dilepaskan dari dunia pendidikan. Sebagai sebuah negara yang besar, pendidikan adalah hal penting untuk dikembangkan dalam rangka menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang mumpuni. Hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari adanya persaingan kualitas sumber daya manusia di ranah internasional. Sayangnya, tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tersebut tidak dibarengi oleh usaha masyarakat untuk turut serta mewujudkan cita-cita bangsa tersebut. Kondisi tersebut bisa dilihat dari masih sedikitnya jumlah buku yang diterbitkan penerbit buku setiap tahun di negara ini yaitu sekitar 7.000 judul buku. Angka tersebut jauh berbeda dengan Amerika Serikat yang berhasil menerbitkan 75 ribu judul buku setiap tahun. Padahal jumlah penduduk Amerika Serikat tidak terlalu berbeda jauh dengan Indonesia. Terlebih lagi, sekitar 80% masyarakat Indonesia memiliki kemampuan untuk membaca.

Salah satu faktor yang mendorong rendahnya jumlah buku yang diterbitkan di Indonesia yaitu rendahnya minat baca masyarakat Indonesia apabila dibandingkan dengan negara lain. Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia juga bisa didefinisikan sebagai kondisi dimana masyarakat tidak memiliki ketertarikan terhadap aktivitas membaca, baik terhadap buku, majalah, koran, dan lain sebagainya padahal jumlah penerbit buku lumayan banyak. Pada kawasan Asia Tenggara, tingkat atau minat baca penduduk Indonesia masih kalah di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Kondisi tersebut bisa jadi juga disebabkan oleh rendahnya pendapatan per kapita yang didapatkan Indonesia apabila dibandingkan dengan ketiga negara ASEAN tersebut. Apabila dibandingkan dengan negara-negara di dunia, posisi Indonesia masih berada di posisi bawah, terlebih apabila dibandingkan dengan negara-negara maju.

Kondisi tersebut sangat disayangkan ketika Indonesia sebenarnya memiliki akademisi yang jumlahnya tidak sedikit. Dengan kata lain, tenaga pendidik seperti dosen dan guru jumlahnya tidak sedikit, meskipun mereka tidak terlalu diperhatikan oleh pemerintahnya, khususnya dalam hal kesejahteraan guru yang statusnya masih bersifat honorer. Minimnya buku ajar yang ada saat ini lebih cenderung pada kurangnya buku ajar untuk tingkat Perguruan Tinggi (PT). Dengan kata lain, buku ajar untuk sekolah dasar dan menengah jumlahnya tidak terlalu bermasalah. Berangkat dari hal tersebut, maka yang perlu dipertanyakan adalah keinginan dosen untuk menulis buku. Padahal Indonesia adalah satu negara yang memiliki banyak dosen berkualitas. Tidak hanya itu, dosen juga merupakan profesi yang sebenarnya memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman berdasarkan aktivitas penelitian yang sering dilakukannya. Hanya saja, minat dosen untuk menulis buku, khususnya buku ajar masih cukup rendah di kalangan akademisi.

Berangkat dari kondisi tersebut, maka setidaknya ada 3 hal yang dituding menjadi penghambat produktivitas dosen dalam menulis buku. Hal ini perlu diperhatikan dalam teknik menulis yaitu:
Pertama adalah berkembangnya mitos bahwa menulis memerlukan bakat. Dengan kata lain, bisa tidaknya seseorang untuk menulis sesuatu didasarkan pada pertimbangan bakat. Orang yang tidak bisa teknik menulis diasumsikan sebagai orang yang tidak memiliki bakat menulis sehingga sampai kapan pun mereka dianggap tidak bisa menulis. Hal tersebut tentu harus ditentang karena tidak sesuai dengan kenyataan. Semua orang pada dasarnya bisa menulis karena sejak kecil sudah diajarkan caranya untuk menulis, baik itu puisi, cerita pendek, pantun, dan lain sebagainya. Pada saat menjalani sekolah menengah dan pendidikan tinggi, kita juga selalu dituntut untuk menulis laporan, tugas, dan presentasi. Maka sebenarnya sejak kecil kita sudah diajarkan untuk menulis. Anggapan bahwa menulis memerlukan bakat adalah hal yang keliru karena teknik menulis adalah sesuatu yang bisa dipelajari. Hanya saja permasalahannya terletak pada mental kita apakah kita mau menulis atau tidak.

Kedua adalah banyaknya akademisi, khususnya dosen yang beranggapan bahwa mereka tidak cukup memiliki waktu untuk menulis buku. Kondisi ini adalah salah satu alasan yang paling sering diutarakan bagi mereka yang tidak memiliki minat dalam menulis buku. Tidak memiliki waktu yang cukup untuk menulis pada dasarnya adalah alasan klasik yang sebenarnya bisa diatasi. Adapun cara mengatasinya yaitu dengan manajemen waktu yang sesuai dengan kesibukan. Dengan kata lain, manajemen waktu menjadi hal yang penting untuk dilakukan oleh dosen, khususnya dalam hal menulis buku. Bahkan mereka bisa meluangkan waktu 5-10 menit untuk menulis buku. Waktu yang singkat tersebut pada dasarnya bisa digunakan dosen untuk menulis, setidaknya 2-3 paragraf. Apabila hal tersebut dilakukan setiap hari, maka dalam jangka waktu tertentu, tulisan dosen tersebut akan bisa dijadikan buku. Oleh karena itu, setiap orang hanya perlu memiliki kemampuan untuk memanajemen waktunya sendiri untuk menulis buku.

Ketiga adalah kecenderungan dosen untuk memilih mengerjakan proyek daripada menulis buku. Hal tersebut berangkat dari anggapan bahwa mengerjakan proyek lebih menguntungkan daripada menulis buku. Asumsi tersebut tidak dapat dilepaskan dari keuntungan (gaji) yang didapatkan dosen ketika mengikuti proyek lebih besar daripada menulis buku. Terlebih lagi, menulis buku dianggap banyak menyita waktu dosen hingga berbulan-bulan dan belum lagi harus melewati proses editing. Hal tersebut berbeda dengan pengerjakan proyek yang sifatnya sementara dan dosen hanya dituntut membuat laporan yang bisa jadi tingkat kesulitannya tidak seberat menulis buku. Apabila dosen sudah terjebak pada pola pikir yang demikian, maka akan cukup sulit bagi dosen untuk meluangkan waktunya dalam rangka menulis buku, khususnya buku ajar di tingkat perguruan tinggi. Oleh karena itu, mental dan kemauan yang kuat tetap menjadi solusi yang ampuh untuk memunculkan semangat dosen dalam menulis buku.

Berangkat dari tiga hambatan yang ditemui orang dalam menulis buku maupun teknik menulis nya, maka solusi yang bisa diambil adalah dengan mengubah pola pikir kita bahwa menulis buku tidak membutuhkan bakat yang ada sejak lahir. Hal tersebut menjadi wajar mengingat teknik menulis buku adalah kemampuan yang bisa dipelajari dari waktu ke waktu. Selain itu, dosen juga perlu untuk menyadari bahwa kesibukan bukanlah hambatan utama dalam menulis buku. Dengan kata lain, mereka bisa menyiasati kesibukannya dengan melakukan manajemen waktu dimana mereka bisa meluangkan 5-10 menit untuk menulis buku setiap harinya. Apabila hal tersebut bisa dilakukan, maka tidak ada alasan lagi bagi dosen untuk tidak menulis buku karena kesibukannya. Terakhir, mengerjakan proyek bukanlah hal yang salah bagi dosen. Penemuan-penemuan yang menarik tersebut juga justru bisa dijadikan inspirasi baru bagi dosen untuk menulis buku. Dengan demikian, ilmu yang didapatkan tidak hanya dimiliki oleh orang yang berkepentingan, tetapi hasilnya pun juga bisa dinikmati oleh publik melalui buku.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Messenger Adhan Chaniago.
×
□
_

Hai! Kamu bisa kirim pesan di sini, jangan Lupa like ya... Terima kasih.